Home » » Berita Bookie " Keberuntungan, McLenin, dan Kenangan Jersey CCCP "

Berita Bookie " Keberuntungan, McLenin, dan Kenangan Jersey CCCP "


Sbobet ~ Apakah sepakbola adalah perkara keberuntungan? Barangkali tidak, barangkali juga iya. Ada banyak orang meyakini jika Dewi Fortuna memang kerap terlibat dalam sebuah pertandingan sepakbola, seperti halnya seorang Diego Maradona yang percaya kalau Tuhan telah bekerja bagi kemenangan Argentina pada Piala Dunia 1986. Karena itulah, kita pun mengenal adagium "bola itu bundar". Karena itu pula, hari-hari ini kita tak merasa heran ketika dua kali mendengar pelatih Rusia, Leonid Slutsky melontarkan pernyataan soal keberuntungan.

Pertama, saat timnya berhasil menahan imbang Inggris dengan skor 1-1 di Stade Velodrome, Marseille, Minggu (12/6/2016) dinihari WIB. Tanpa mengecilkan perjuangan anak-anak asuhnya, ketika itu ia mengakui bahwa timnya telah dipayungi oleh keberuntungan. Dan yang kedua, tatkala mereka harus menerima kekalahan 1-2 dari Slovakia di stade Pierre Mauroy, Lille, Rabu (15/6/2016) malam WIB. Yang mana kali itu ia menganggap bahwa kemenangan tim lawan juga merupakan sebuah kemujuran.

"Slovakia lebih beruntung dari kami hari ini. Meski kami tak pantas kalah. Dalam hal permainan, kami mengontrol sepanjang laga,"

Konyol? Sekali lagi, bisa iya bisa tidak. Sebab, apabila pengakuan pertamanya bisa dimaknai sebagai sebuah ungkapan sadar diri atau malah sebentuk kepasrahan, pernyataannya yang kedua ini mungkin bisa pula kita artikan sebagai semacam usaha untuk menyemangati skuatnya.

Toh, apa mau dikata. Seperti yang diungkapkan Vitaly Mutko, menteri olahraga Rusia empat tahun lalu, dalam Euro 2016 ini pun banyak orang menilai bahwa sesungguhnya timnas Rusia tidaklah siap tampil di Piala Eropa. Kendati lolos ke Prancis sebagai runner-up Grup G, mereka harus melewati masa kualifikasi yang terjal. Bahkan sempat terancam tidak lolos setelah meraih hasil buruk dalam enam laga pertama yang membuat Fabio Capello dipecat sebagai pelatih. Demikian kenyataan getir itu.

Ya, padahal delapan tahun silam di Austria-Swiss, di bawah asuhan Guus Hiddink, Roman Pavlyuchenko dkk. masih sanggup melaju sampai babak semifinal. Dan jauh di masa lalu, ketika kesebelasan nasionalnya masih mengenakan jersey bertuliskan 'CCCP', Rusia notabene pernah menjadi tim kuat dengan tradisi panjang. Bahkan mereka-lah kampiun pertama Piala Eropa dengan kiper legendaris Lev Yashin tatkala turnamen itu pertama kali diselenggarakan di benua biru. 10 Juli 1960, pada pertandingan final dengan perpanjangan waktu di Stadion Parc de Princes, Paris, di hadapan 17.966 penonton, mereka menumbangkan Yugoslavia 2-1. Viktor Ponedelnik yang menjadi penentu kemenangan kala itu membobol jaring Vidinic di menit 113 setelah skor tetap bertahan 1-1 pada masa normal.

Tentu, dunia kemudian mengenang Yashin sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang jaman. Membela timnas Uni Soviet dalam tiga kali Piala Dunia (1958, 1962, 1966) dan dua kali Piala Eropa (1960, 1964) serta mengantar tim "Beruang Merah" meraih emas Olimpiade 1956 di Melbourne, Yashin konon telah menggagalkan lebih dari 150 penalti sepanjang kariernya. Karena itu—atas jasanya pada rakyat dan negaranya—penjaga gawang yang selalu mengenakan seragam hitam-hitam saat bermain ini pun dianugrahi Order of Lenin pada 1967. Tetapi momen paling membanggakan dalam kariernya adalah ketika ia memenangi gelar European Player of the Year 1963. FIFA sendiri lantas mengganjalnya dengan penghargaan FIFA Order of Merit (1988) dan FIFA World Keeper of the Century (2000).


Rusia yang kini, bukanlah CCCP dulu. "I've been to Russia but I did not find a bear". Demikianlah syahdan sepotong tulisan dalam bahasa Inggris pada kaos oblong yang banyak dijajakan di sekitar Kremlin. Kini semua kebesaran masa silam itu toh ibarat api revolusi 1917, segala doktrin dan ajaran komunisme yang hanya tersisa asapnya di bumi Rusia.

Pasca 1991, siapapun yang mengunjungi Moskow pasti mafhum kalau kota tua itu telah berubah. Rusia telah berbeda. Di jalan-jalan utama Moskow kini, di antara seliweran mobil-mobil mewah, menjamur ribuan iklan besar-kecil yang menawarkan ponsel, arloji, minuman, kosmetik, dan ragam produk bermerk. Termasuk di sini iklan dengan model perempuan berpakaian seronok yang di masa lampau dikutuk sebagai produk kapitalis. Bahkan bir yang dianggap 'minuman budaya Barat' jadi sedemikian populer di kalangan muda Rusia, melebihi vodka. Popularitas berbagai merk bir dan 'minuman modern' lain seperti Coca Cola ini agaknya telah menjadi bagian gaya hidup budaya baru Rusia dengan tingkat konsumsi yang rata-rata naik 20% pertahun. Sementara itu simbol-simbol komunis yang dulu pernah begitu galak tidaklah lebih dari barang dagangan; bagian dari pasar dan kejelian kapitalisme.


Tengok saja—ketika di Indonesia akhir-akhir ini para tentara dan polisi serta ormas-ormas Islam Radikal yang dijangkiti fobia akut mendadak sibuk merazia gambar palu-arit—gambar-gambar Lenin, Stalin, KGB, dan palu-arit itu justru dengan gampangnya bisa kita peroleh di Rusia dalam berbagai bentuk memorabilia dan suvenir yang laris manis dibeli turis asing: mulai dari korek api, kaos oblong, emblem, topi, sampai jam tangan.

Angin perubahan yang melanda Rusia pasca Uni Soviet tampaknya memang membawa semangat pragmatisme yang membuat orang berlomba-lomba mencari peruntungan dari apapun yang bisa dijual; sehingga di sini, poster-poster pun diparodikan, mulai dari kaos bergambar burger McLenin (parodi McDonald) atau gambar Stalin menawarkan vodka dan bir hingga gambar Marx dengan brewok lebatnya yang menjadi model iklan silet. Dengan kata lain, sebuah bukti nyata kemenangan kapitalisme global atas komunisme yang sudah lama kehilangan daya pukaunya.

Ya, meskipun masa lalu tak juga dengan mudah hengkang. Di Rusia, tetap saja terdapat orang-orang yang memeluk nostalgia dengan kelewat haru-biru. Senantiasa ada yang mengenang masa silam tatkala Uni Soviet menjadi negara super power yang ditakuti; merindukan saat-saat kejayaan komunisme ketika negeri itu masih tertutup tirai besi. Selalu ada yang tak puas dengan angin perubahan....

Nasionalisme terkadang memang berada di luar jangkauan yang bisa dikalkulasi pasar. Dalam berbagai unjuk rasa oleh kelompok komunis dan nasionalis misalnya, tampak bagi kita bagaimana para orang tua dan pensiunan yang terguncang kehidupan sosial ekonominya lantaran perubahan sistem politik, ekonomi dan sosial, serta anak-anak muda yang ultra-nasionalistik dan terpengaruh neo-Nazi bergabung bersama mengibarkan bendera merah.

Namun, tidak seperti seorang Mayjen (Purn) Kivlan Zen yang berilusi PKI akan bangkit di Indonesia dan sudah memiliki 15 juta pendukung, toh mayoritas orang Rusia tahu betul bahwa mengatakan komunisme bakal bangkit di negeri mereka bukan saja sebuah kedunguan anti logika, tetapi sudah menjurus kepada keajaiban yang paling absurd. Mereka yang sudah merasakan kegagalan komunisme, terlebih yang sempat mencicipi pahitnya hidup di bawah teror dan kendali tangan besi (terutama saat Stalin berkuasa), tentunya tak berkenan kembali ke masa tatkala jersey CCCP belum menjadi sekadar suvenir di toko-toko itu.

Maka, tidaklah terlampau aneh jika para suporter Rusia—yang merindukan kembali jaman keemasan tim "Beruang Merah" ketika berhasil menjuarai Piala Eropa 1960; menjadi runner-up 1964, semifinalis 1968, runner-up 1972, runner-up 1988 serta semifinalis 2008—pun hanya bisa melampiaskan rasa frustrasi dan kekecewaan atas buruknya penampilan timnas mereka dengan berbuat kerusuhan.

"Mereka membela kehormatan negara mereka dan tak membiarkan fans Inggris menodai tanah kelahiran mereka. Kita harus memaafkan dan memahami fans kami," demikian tukas Igor Lebedev, salah satu anggota Komite Eksekutif Asosiasi Sepakbola Rusia yang juga merupakan anggota parlemen dari Partai Liberal Demokratik, menanggapi ancaman diskualifikasi UEFA di akun Twitter-nya.

  • Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach
Dan ini barangkali ada benarnya. Bukankah di era modern, sepakbola memang seolah menjadi tempat di mana rasa patriotisme kita diuji? Turnamen sekaliber Piala Eropa tak sekadar kejuaraan olahraga level dunia, melainkan juga ajang pembuktian semangat kebangsaan sekaligus kebanggaan dan harga diri bagi tiap bangsa di dunia. Sebab itu, tak berlebihan pula apabila Yashin mengatakan: "The joy of seeing Yuri Gagarin flying in space is only superseded by the joy of a good penalty save."

Yeah, Yuri Gagarin—manusia pertama mengorbit ke ruang angkasa yang patungnya masih menjulang tinggi di pusat kota Moskow sebagai salah satu simbol kedigdayaan Uni Sovyet di masa lampau sekaligus sisa cerita Perang dingin itu—menjadi kebanggaan rakyat Rusia karena pernah mengungguli Amerika dalam perlombaan teknologi antariksa.

Ah, tentu itu bukanlah lantaran sebuah keberuntungan, Kawan!


Share this article :
 

© AGEN BOLA ONLINE | CASINO ONLINE | TOGEL ONLINE | TANGKAS | AGEN BOLA TERPERCAYA
| © SukaJudi88 |