Home » » Berita Bookie " Cara Bermain Spanyol yang Bisa Menguntungkan Italia "

Berita Bookie " Cara Bermain Spanyol yang Bisa Menguntungkan Italia "


SBOBET ~ Itala kontra Spanyol menjadi laga yang paling ditunggu-tunggu di Piala Eropa 2016 ini. Pertemuan di babak 16 besar ini, Senin (27/6) pukul 23.00 WIB, dilabeli sebagai laga final yang terlalu dini terjadi. Keduanya bertemu setelah Italia menjadi juara Grup E, sementara Spanyol menempati peringkat kedua Grup D.

Spanyol dan Italia saat ini dikenal sebagai juara dunia. Pertemuan kali ini pun berpotensi tak akan antiklimaks seperti yang terjadi pada final Piala Eropa 2012. Saat itu, Italia harus menerima kenyataan dipermalukan Spanyol dengan skor 4-0.

Bahkan pada pertemuan kali ini, bukan tak mungkin Italia yang akan memberikan kejutan. Kekalahan Spanyol atas Kroasia pada pertandingan terakhir babak grup D menunjukkan bahwa Spanyol memiliki kelemahan yang bisa dimanfaatkan Italia.

Kelemahan Spanyol di Sisi Sayap

Spanyol kemungkinan akan menurunkan skuat terbaiknya mengingat tak ada satupun pemain yang cedera atau harus absen karena akumulasi. Skuat terbaik mereka sendiri adalah skuat yang juga tampil saat menghadapi Kroasia. Ini yang memungkinkan Spanyol bisa lebih lelah saat menghadapi Italia yang mengistirahatkan banyak pemain inti mereka di pertandingan terakhir fase grup.

Spanyol akan tampil dengan formasi andalannya, 4-1-4-1. Sergio Busquets akan ditemani Andres Iniesta dan Francesc Fabregas di lini tengah. Sementara di lini depan, Nolito dan Alvaro Morata yang mulai menunjukkan ketajamannya akan dibantu David Silva.

Kroasia berhasil merepotkan Spanyol dengan memanfaatkan kelemahan di sektor sayap Spanyol. Transisi dari bertahan ke menyerang Kroasia yang cepat melalui lebar lapangan berhasil membuat Spanyol ketar-ketir. Belum lagi high pressing yang diterapkan Kroasia membuat Spanyol kesultan membangun serangan.

Skema yang diterapkan Kroasia tersebut tak jauh berbeda dengan apa yang dipraktekkan Italia, khususnya saat melawan Belgia pada pertandingan pertama Grup E. Italia mengandalkan serangan balik cepat melalui sayap, di mana formasi dasar 3-5-2 terlihat sering berubah menjadi 3-3-4.

Saat menghadapi Belgia, Italia memasang Matteo Darmian dan Antonio Candreva sebagai wingback. Keduanya menunggu di pintu sepertiga akhir ketika bola serangan Italia masih di belakang. Darmian dan Candreva kerap sejajar dengan Citadin Eder dan Graziano Pelle yang berduet di lini depan.

Yang membedakan adalah gaya pressing Italia. Jika Kroasia menekan denganhigh block atau menekan sejak lini pertahanan lawan, Italia menekan denganmedium block. Pressing baru diberikan jika bola serangan lawan hendak memasuki garis tengah lapangan.

Namun skema seperti ini bisa jadi akan membuat Spanyol lebih kesulitan dibanding saat menghadapi Kroasia. Dengan garis pertahanan tinggi, Kroasia memiliki sejumlah celah ketika Spanyol berhasil keluar dari tekanan. Sementara garis pertahanan rendah Italia membuat lini pertahanan Italia sangat rapat.

Pada laga terakhir grup, Italia memang kalah dari Republik Irlandia dengan skor 1-0. Namun perlu dicatat, Italia saat itu mengistirahatkan para pemain utama mereka. Hanya Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli yang menjadi pemain utama namun bermain pada laga terakhir Italia di grup E menghadapi Irlandia.

Kekalahan Italia atas Irlandia bukan menjadi tolok ukur kekuatan Italia, khususnya bagi Spanyol. Hasil tiga kemenangan dan dua seri Spanyol atas Italia pada enam pertemuan terakhir pun dipastikan tak akan banyak berpengaruh pada duel mereka kali ini.


Cara Bermain Spanyol Untungkan Italia?

Saat dikalahkan Irlandia, Italia memang tampil inferior. Selain gagal mencetak gol, Italia juga hanya lima kali menciptakan peluang. Irlandia sendiri berhasil mengalahkan Italia melalui serangan balik jelang pertandingan berakhir, tepatnya menit ke-84.

Pada laga tersebut, Italia bermain dengan pendekat strategi yang berbeda dengan dua laga sebelumnya, menghadapi Belgia dan Swedia. Pelatih Italia, Antonio Conte, juga mengganti sembilan pemain utama yang berlaga pada dua laga sebelum menghadapi Irlandia.

Italia mencoba menguasai pertandingan. Mereka pun kemudian unggul penguasaan bola, meski tipis, dengan 52% berbanding 48%. Hanya kubu lawan berhasil menciptakan 12 peluang, atau dua kali lebih banyak dari yang dilakukan Italia, hingga akhirnya Robert Brady mencetak gol setelah memanfaatkan asis Wesley Hoolahan.

Menghadapi Spanyol, Italia kemungkinan akan bisa memainkan skema andalannya. Dengan formasi dasar 3-5-2, skuat berjuluk Gli Azzurri tersebut memainkan serangan balik dengan memanfaatkan lebar lapangan seperti pada laga melawan Belgia.

Hal ini dikarenakan Spanyol merupakan kesebelasan yang selalu bisa mendominasi dan menguasai jalannya pertandingan. Umpan-umpan pendek sejak dari lini pertahanan menjadi ciri khas Spanyol, khususnya setelah dilatih Vicente del Bosque.

Pada laga melawan Republik Cheska, Spanyol unggul penguasaan bola dengan 67%, 18 peluang, namun hanya satu gol. Laga melawan Turki, Spanyol menguasai 58% penguasaan bola, 18 peluang kembali diciptakan, hanya mereka berhasil mencetak tiga gol. Melawan Kroasia, dengan penguasaan bola 62%, Spanyol berhasil menciptakan 15 peluang namun harus kalah dengan skor 2-1.

Sementara itu, Italia bisa terbilang hanya tampil mengesankan saat menang 2-0 atas Belgia. Dan ketika menghadapi Belgia, Italia kalah dalam penguasaan bola, 54% berbanding 45%. Sementara saat menang tipis atas Swedia, penguasaan bola berimbang 50% berbanding 50%.

Skema yang digunakan Italia bisa jadi memang akan efektif jika menghadapi melawan kesebelasan yang mengedepankan penguasaan bola. Hal ini terlihat dari perbandingan antara Italia menghadapi Belgia, dengan menghadapi Swedia dan Irlandia.


Namun yang bisa menjadi masalah bagi Italia adalah kebugaran dua pemain andalannya, Antonio Candreva dan Gianluigi Buffon. Candreva dan Buffon absen saat menghadapi Irlandia dikarenakan tidak fit. Candreva mengalami cedera hamstring sementara Buffon mengalami flu.

Untuk Buffon, kondisinya dikabarkan telah kembali bugar dan siap diturunkan menghadapi Spanyol. Sementara Candreva, kondisinya masih diragukan tampil walau beberapa sumber menyebutkan ia sudah siap kembali merumput.

Candreva sendiri menjadi pemain yang cukup penting dalam skema yang diterapkan Conte. Dalam skema 3-5-2, Candreva ditempatkan sebagi wing-back kanan. Ia bisa disiplin dalam menyerang maupun bertahan. Hal itu terbukti dengan torehan satu asis serta Italia yang masih belum kebobolan ketika ia tampil.

Jikapun Candreva masih tak bisa tampil, Conte sebenarnya masih memiliki Mattia De Sciglio atau Alessandro Florenzi yang bisa ditempatkan sebagai wing-back kanan (Federico Bernardeschi terbilang gagal saat memainkan peran Candreva di laga melawan Irlandia). Emanuele Giaccherini pun sebenarnya bisa ditempatkan di sisi kanan walau ia lebih sering dipasang di area tengah oleh Conte.


Kesimpulan

Sebagai juara bertahan, ditambah Italia yang sebelumnya tampil angin-anginan, Spanyol mungkin akan lebih diunggulkan pada pertemuan kali ini. Namun dengan situasi di atas, Italia memiliki kans untuk menghadirkan kejutan dan mematahkan prediksi banyak pihak.

Conte akan mengeksploitasi kelemahan Spanyol pada kedua sayap. Namun keberhasilan strategi ini akan bergantung pada bagaimana Candreva dan Darmian yang mengisi pos sayap Italia. Jika Vicente del Bosque memiliki cara untuk meredam sayap Italia atau menemukan kelemahan Italia, atau Alvaro Morata bisa menaklukkan (mantan) rekannya di Juventus, bisa jadi Italia-lah yang akan kembali gigit jari.

Share this article :
 

© AGEN BOLA ONLINE | CASINO ONLINE | TOGEL ONLINE | TANGKAS | AGEN BOLA TERPERCAYA
| © SukaJudi88 |