Home » » Berita Bookie " Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Babak 16 Besar Piala Eropa 2016? "

Berita Bookie " Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Babak 16 Besar Piala Eropa 2016? "


Sbobet ~ Setelah fase grup selesai, babak sistem gugur (knock-out) Piala Eropa 2016 sudah dimulai, dengan babak 16 besar (perdelapanfinal) baru saja berakhir. Kejutan demi kejutan terus terjadi di turnamen ini dengan Islandia yang berhasil menyingkirkan Inggris dan tuan rumah Prancis yang hampir disingkirkan oleh Republik Irlandia.

Format baru dengan 24 tim di fase grup membuat Piala Eropa 2016 kali ini terasa sangat aneh. Hanya 8 tim saja yang dieliminasi untuk melaju ke babakknock-out, dan banyak yang berpikir bahwa Portugal dan Irlandia Utara tidak benar-benar pantas lolos ke fase gugur ini.

Alhasil babak fase knock-out berat sebelah, dengan slot kanan lebih banyak didominasi oleh tim unggulan, menjadi perbincangan dan perdebatan paling panas setelah fase grup berakhir.

Hanya sedikit tim yang tereliminasi dari fase grup secara tidak langsung juga membuat banyak tim non-unggulan yang berhasil melaju ke babak 16 besar, seperti Irlandia Utara, Republik Irlandia, Slovakia, dan Islandia.

Hal ini membuat babak 16 besar memiliki beberapa tren taktik yang hampir seragam dan khas. Berikut kami akan menyampaikan analis secara menyeluruh. Beberapa mungkin sudah bisa kita lihat secara langsung, tapi ada beberapa juga yang sepertinya tidak terlalu kentara.

Polandia 1-1 Swiss (Polandia menang 5-4 di babak adu penalti), Wales 1-0 Irlandia Utara, Kroasia 0-1 Portugal: Tidak Bisa Terus Mengandalkan One-man Team


Ketiga pertandingan ini mencirikan hal yang sama, yaitu tim yang kesulitan untuk membangun serangan dengan mengandalkan pemain terbaik mereka. Robert Lewandowski (Polandia) dan Gareth Bale (Wales) misalnya, mereka tidak benar-benar bermain baik pada babak 16 besar ini.

Lewandowski tetap kesulitan mendapatkan bola di sepanjang turnamen ini. Penyerang FC Bayern Munich tersebut baru mencetak 8 kali tembakan dengan dua saja yang tepat sasaran sepanjang turnamen.

Sedangkan Bale menjadi pemain Wales yang paling banyak mencetak gol (3) hanya karena dua tendangan bebasnya yang tidak diantisipasi dengan baik oleh penjaga gawang. Pemain Real Madrid ini tetap kesulitan untuk melakukan tembakan dari situasi permainan terbuka (14).

Kemudian Cristiano Ronaldo, kita semua tahu Ronaldo. Ia menjadi pemain yang paling banyak melakukan tembakan dengan 31 tembakan sepanjang Piala Eropa 2016 (7,8 tembakan per pertandingan), tapi hanya 8 saja yang tepat sasaran. Portugal bisa mengalahkan Kroasia karena hasil sebuah serangan balik yang diawali bola panjang di menit terakhir babak perpanjangan waktu.


Namun, beruntungnya, Lewandowski, Bale, dan Ronaldo masih bisa terus beraksi di Prancis. Baik Polandia, Wales, dan Portugal berhasil lolos ke babak perempatfinal. Satu hal yang paling diperbincangkan dari ketiga pertandingan di atas adalah gol salto spektakuler Xherdan Shaqiri.

Prancis 2-1 Republik Irlandia: Griezmann Lebih Cocok Bermain di Tengah

Setelah tampil tidak terlalu meyakinkan di fase grup, meskipun mereka menjadi juara Grup A, Prancis akhirnya mampu bermain dengan meyakinkan di babak 16 besar. Namun, sejujurnya, mereka bisa tampil lebih baik karena harus kebobolan terlebih dahulu di menit kedua melalui penalti Robert Brady.

Permainan Prancis tidak meyakinkan karena mereka tidak benar-benar menguasai permainan. Dari total 102 sapuan sepanjang turnamen, beberapa kali mereka melakukan sapuan tanpa bermaksud untuk menyampaikan bola ke rekan tim ketika sedang berada di bawah tekanan.

Dengan permainan Prancis yang seperti ini, sebenarnya gol penalti Brady sudah cukup untuk membuat Irlandia mendapatkan kemenangan. Namun, permainan cemerlang Antoine Griezmann bersama Atlético Madrid akhirnya mampu ia tularkan juga ke Prancis pada pertandingan ini.


Griezmann yang bermain lebih sentral setelah Kingsley Coman dimasukkan di awal babak kedua sebagai sayap kanan, mampu membuat Prancis menjadi dominan kembali. Melalui 35 umpan silang dan 7 umpan terobosan, permainan Prancis di babak kedua adalah permainan terbaik mereka sepanjang turnamen ini.

Irlandia yang mencoba keluar tekanan justru harus bermain dengan 10 pemain. Meskipun mereka coba keluar dari tekanan dengan 79 bola panjang, mereka tidak mampu menciptakan peluang berarti di sisa laga.

Permainan Prancis di babak 16 besar membawa pelajaran berharga untuk menyusun sebelas pemain utama, yaitu untuk mendahulukan pemain-pemain yang sedang dalam form terbaik dengan mengesampingkan nama-nama besar. Inggris, coba tolong dicatat, ya.

Jerman 3-0 Slovakia: Mainkan Penyerang Murni

Hasil 3-0 memang tidak sementereng 7-1 saat mereka memecundangi Brasil di semi-final Piala Dunia 2014. Namun, Jerman bisa saja mencetak lebih banyak gol saat melawan Slovakia.

Pasukan Joachim Loew bermain dominan dalam menyerang dan bertahan. Mereka juga sangat efektif dengan 3 gol dari 7 tembakan tepat sasaran (21 total tembakan) yang mereka bangun secara merata melalui 30 umpan silang dan 7 umpan terobosan.

Sementara Slovakia mencoba memecah kebuntuan dengan 68 bola panjang namun berkali-kali mengalami kegagalan. Mereka hanya bisa mencetak 7 total tembakan (2 on target).

Pada pertandingan ini, Jerman akhirnya mampu memaksimalkan potensi mereka. Dengan Mario Gómez sebagai penyerang murni, Loew mencadangkan Mario Goetze yang sejauh ini tidak efektif. Gómez menjadivocal point yang membuat Mesut Oezil dkk mampu membangun permainan dari ruang yang lebih leluasa.


Ini juga yang membuat Julian Draxler mendapatkan banyak kesempatan untuk melakukan dribel dan melewati pemain-pemain Slovakia yang sekaligus membuat Jerman lebih seimbang dan melebar ketika menyerang. Perhatikan saja gol kedua dan ketiga Jerman.

Jerman memang bukan tim yang bisa mencetak banyak gol di Piala Eropa 2016 sejauh ini. Sehingga mereka butuh untuk lebih efisien di depan gawang jika mereka ingin mengalahkan Italia. Mereka akan lebih mudah mencapainya dengan memainkan penyerang murni (maksud kami adalah Gómez, bukan Lukas Podolski, Thomas Mueller, apalagi Goetze).

Belgia 4-0 Hongaria: Menghibur, tapi Jangan Bermain Terlalu Terbuka

Sejauh ini Hongaria adalah tim yang menghibur: mereka bisa mencetak banyak gol, bermain sangat terbuka, dan juga memiliki kiper berusia 40 tahun yang nyentrik dan selalu memakai celana panjang piyama abu-abu andalannya.


Pada saat melawan Belgia, mereka juga tidak berubah. Hongaria lebih menguasai pertandingan (54%) dan akurasi operan (85%). Dengan mencetak 16 tembakan dengan 6 di antaranya on target, Hungaria sebenarnya lebih unggul.

Sayangnya Belgia bisa bermain lebih efektif. Tercatat 14 tembakan tepat sasaran (dari total 25 tembakan) pada akhirnya mampu menembus gawang Gábor Király sebanyak empat kali. Melawan Hongaria yang sangat terbuka, Belgia bermain lebih efektif dalam menyerang sekaligus bertahan (16 tekel dan 56% duel bola udara).

Sebanyak 16 dribel berhasil Eden Hazard dkk cetak, Belgia akhirnya mampu tampil meyakinkan melalui permainan yang lebih cepat dan dinamis, tidak seperti penampilan mereka di fase grup.

Namun, menghadapi Wales yang tidak seterbuka Hongaria di perempatfinal nanti, bisa jadi pasukan Marc Wilmots akan mengalami kebuntuan lagi. Tapi, setidaknya mereka sudah lebih percaya diri sekarang.


Italia 2-0 Spanyol: Italia Lebih dari Sekadar Catenaccio

Penampilan Italia melawan Spanyol adalah hal terdekat yang bisa kita tangkap mengenai kesempurnaan cinta taktik. Gairah dan taktik Antonio Conte berhasil mengingkari kekuasaan ruang dan waktu Spanyol (59% penguasaan bola dan 85% akurasi operan Spanyol).

Ketika Spanyol mendapatkan bola, Italia langsung menekan. Ini yang membuat Spanyol mencoba memecah kebuntuan melalui 61 bola panjang dan 26 umpan silang. Namun, mereka tidak memiliki penyelesaian yang berarti di depan gawang (nihil gol, 5 on target dari 14 tembakan).


Sebenarnya Vicente del Bosque bisa melakukan pendekatan melalui kecepatan alih-alih operan dan penguasaan bola saat melawan Italia, tapi ia tidak melakukannya.

Italia mampu bermain jauh lebih efisien dengan 7 tembakan tepat sasaran dari 11 kali percobaan saja. Mereka juga tampil dominan dalam bertahan (12 tekel) dan duel udara (55%).

Melawan Jerman yang lebih cepat dan lebih fisikal daripada Spanyol di perempatfinal nanti akan membuat kita penasaran. Satu hal yang jelas, Conte pasti sudah menyiapkan timnya untuk itu.

Inggris 1-2 Islandia: Seburuk Apapun, Tim Harus Memiliki Game Plan

Masih mau membahas Inggris, nih? Baiklah. Pada intinya semua tajuk utama sudah, masih, dan akan terus memberitakan Inggris, padahal tim yang masih bermain adalah Islandia.

Inggris bermain sangat dominan baik melalui penguasaan bola maupun akurasi operan. Sayangnya mereka hanya mampu mengkonversikan 5% saja dari seluruh peluang mereka (4 tembakan tepat sasaran dari 18 tembakan).


Tidak efektifnya permainan Inggris, ditambah Roy Hodgson yang sepertinya tidak memiliki rencana permainan yang jelas, membuat mereka frustrasi dan mencoba peruntungan melalui 29 umpan silang.

Fakta bahwa Inggris bisa lebih unggul dari angka dribel (17) dan duel bola udara (67%) juga belum cukup untuk membuat mereka bisa membobol gawang Islandia.

Berseberangan dengan Inggris, Islandia mampu tampil lebih efisien dengan mencetak 2 gol hasil dari 5 tembakan tepat sasaran dari 8 saja seluruh percobaan tembakan mereka. Pasukan Lars Lagerback dan Heimir Hallgrímsson ini mampu memainkan rencana permainan mereka melalui bertahan disiplin dan bola panjang (71).


Sejak pertandingan pembuka melawan Portugal, "tim bermental kecil" ini (dari kutipan Ronaldo) sudah bekerja keras dan sangat rajin terutama dalam bertahan. Mereka tidak neko-neko, dengan berstatus sebagai tim yang paling sering ditembak dan paling sedikit menembak, setidaknya mereka memilikigame plan. Kembali: Inggris, coba tolong dicatat, ya.

Kesimpulan Tren Taktik

Dari seluruh pertandingan di babak 16 besar, sejauh ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan taktik. Semua tim yang kalah, pasti bermain tidak efektif (dilihat dari banyaknya jumlah tembakan). Semakin banyak coba menembak, justru semakin tidak efektif dan tidak efisien (dilihat dari sedikitnya jumlah tembakan, tapi banyaknya jumlah tembakan tepat sasaran.

Sebanyak 5 dari 8 tim yang tersingkir di babak 16 besar adalah tim yang lebih dominan dalam penguasaan bola dan akurasi operan, kecuali Prancis, Jerman, dan Wales. Jadi yang terpenting bukanlah mendominasi permainan, tapi memenangkan permainan.

Tim yang tidak dominan atau tertekan selalu mencoba keluar dari tekanan dengan bola panjang (kecuali Irlandia Utara). Sedangkan tim yang sedang mengejar gol (tidak harus sedang ketinggalan, bisa juga sedang mendominasi tapi tak kunjung mencetak gol) bisa dikejutkan dengan umpan terobosan, karena garis pertahanan mereka tinggi.


Kami bisa mendapatkan kesimpulan ini terutama dari pertandingan Prancis, Jerman, dan Belgia.

Tim dominan yang tidak kunjung efektif juga mencoba memecah kebuntuan lewat umpan silang, kecuali Jerman yang memang memang mengandalkan umpan silang untuk mencetak gol.

Sementara tim yang tidak dominan yang lolos adalah mereka yang tidak selalu efektif (usaha maksimal dalam menembak, beberapa on target dan jadi gol), tetapi mereka bisa lebih efisien (sedikit menembak, banyak yang on target, dan beberapa jadi gol).

Islandia, Irlandia, dan Portugal adalah tim yang paling efisien.Namun, tidak semua tim efisien bisa lolos (Irlandia). Kembali, yang terpenting adalah rencana permainan (game plan), karena ada banyak cara untuk memenangi permainan.

Share this article :
 

© AGEN BOLA ONLINE | CASINO ONLINE | TOGEL ONLINE | TANGKAS | AGEN BOLA TERPERCAYA
| © SukaJudi88 |